Sabtu, 28 Desember 2013

KESENIAN BANTENGAN

Pertunjukan Bantengan saat acara Bersih desa
di desa Wonorejo Kecamatan Lawang
Bantengan merupakan kesenian yang memadukan antara pencak silat dengan pertunjukan menangkap banteng yang sedang mengamuk. Seperti halnya kesenian jaranan, bantengan juga diiringi oleh musik gamelan khas serta kental akan mistis. Pemain pemakai topeng bantengan (terdiri dari 2 orang) biasanya kemasukan roh setelah dibacakan mantra.

Melacak tempat lahir kesenian bantengan ini sangat susah, karena tidak ada catatan resmi dan bukti yang valid untuk ditelusuri. Namun diperkirakan kesenian ini ada sejak zaman kerajaan Singhasari. Salah satu bukti adalah relief pada Candi Singhasari. Meskipun ada perbedaan bentuk antara zaman Singhasari dengan zaman sekarang. Kesenian ini kemudian berkembang pesat pada tahun 1960-an, ketika zaman Orde Lama. Setiap perayaan kemerdekaan selalu diadakan pawai dan pertunjukan Bantengan beserta tarian Liang-liong, selamatan desa serta acara-acara rakyat seperti ulang tahun hari jadi kota. 

Namun kesenian bantengan ini mengalami penurunan peminat. Seakan mati suri, kemudian kesenian ini menjadi populer kembali pada saat ini (setelah reformasi). Seiring dengan pupoler kembali kesenian ini, saling klaim sebagai wilayah tempat kelahiran kesenian bantengan terjadi. Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto dengan Kota Batu menjadi dua daerah yang mengakui bahwa kesenian bantengan merupakan kesenian yang lahir dari wilayah mereka. Tidak ada catatan secara pasti kesenian dari mana kesenian ini lahir menjadi kelemahan untuk melacak asal-usul kesenian bantengan berasal. Terlepas dari manakah kesenian ini berasal, melahirkan sisi positif bahwa kini dikedua daerah tersebut melaksanakan upaya pelestarian dengan menggelar gebyar bantengan.

Kesenian bantengan ini berkembang pesat di daerah lereng gunung Arjuno, yaitu wilayah Kecamatan Lawang (Kab. Malang), Kota Batu, Kecamatan Pacet (Kab. Mojokerto) dan Lereng Semeru yaitu Kecamatan Tumpang (Malang) serta daerah pinggiran Kota Malang. Hampir setiap hajatan atau acara rakyat, bantengan hadir untuk menjadi hiburan yang seru.

Pemain Gamelan
Pemain bantengan terdiri dari 10 hingga 30 orang. Dalam suatu pementasan, pemain terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, pemain musik yaitu : penabuh gending atau Jidor atau musik gamelan (kendang, kenong dan Gong) serta sinden juga pengrawit. Kedua, pendekar yang mengendalikan banteng. Ketiga, sesepuh yang dituakan, mempunyai kelebihan untuk memanggil roh Dahyangan untuk masuk kedalam tubuh pemain banteng dan mengeluarkannya. Keempat, pendekar pemegang pecut yang bertugas untuk mengendalikan kendali kelompok dengan membawa campuk. Kelima, pemeran bantengan yang masing-masing banteng terdiri dari 2 orang.


Kostum bantengan biasanya terdiri dari tanduk (kepala sapi, kerbau, banteng dan lain-lain), topeng kepala banteng yang terbuat dari kayu dengan cat dan ukiran, mahkota banteng berupa sulur wayangan terbuat dari kulit atau kertas, kelontong (alat bunyi di leher), badan banteng terbuat dari rotan berbentuk rotan dan tertutup oleh kain hitam lengkap dengan ekornya. Biasanya kaki banteng merupakan kaki 2orang pemain yang memakai celana hitam.


Pendekar yang sedang menaklukan banteng
Rangkaian acara bantengan yang didokumentasikan dari acara bersih desa di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang. Pertama adalah dibuka dengan seorang sesepuh yang memiliki kemampuan untuk memanggil Dahyangan dengan membaca mantra-mantra. Kemudian dilanjutkan dengan 2 orang pendekar yang beradu ilmu. Selanjutnya, sang pemegang cambuk mulai menggoda banteng yang telah diperankan 2 orang yang telah kemasukan roh Dahyangan hingga banteng mengamuk. Setelah Banteng mengamuk, pendekar yang bertugas sebagai pawang berusaha menaklukkan banteng yang telah mengamuk. Ke dua pemeran banteng yang telas kemasukan roh kemudian disadarkan oleh sesepuh. Selanjutnya, dua orang pendekar menunjukkan atraksi berupa adu kekebalan.

Demikian ringkasan mengenai kebudayaan bantengan malang disalahsatu daerah ketika ada hajatan rakyat berupa bersih desa, semoga bermanfaat.




0 komentar:

Posting Komentar