Senin, 25 Maret 2013

UPACARA JALANADI DHIPUJA DI BALEKAMBANG

Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai pantai Balekambang. Terletak di selatan Kabupaten Malang, memiliki pesona wisata yang menakjubkan. Pantai dengan pesona pura ditengah pulau ini biasa disandingkan dengan pantai Tanah Lot di Bali.

Pulau Ismoyo, merupakan salah satu diantara jejeran pulau yang terdapat pura di tengahnya bernama Luhur Amerta Jati. Dihubungkan dengan jembatan sekitar 1 meter, menyatukan dua daratan yang dipisahkan oleh air laut. Diresmikan oleh bapak Bupati Malang, Edi Slamet, pada tahun 1985, Pura Amerta Jati menjadi salah satu pesona wisata dan tempat ibadah umat beragama Hindu. Dengan mematuhi tata tertib memasuki tempat ibadah, traveller bisa berphoto di depan pintu pura dan di kawasan Pulau Ismoyo.

Keberadaan Pura Luhur Amerta Jati di pantai Balekambang tidak hanya mengundang daya tarik para wisatawan, namun juga sebagai tempat beribadah bagi umat Hindu dari berbagai daerah. Salah satu upacara yang dilaksanakan di Pura ini adalah upacara Melasti. Melasti juga disebut upacara Melis atau Mekilis, dimana umat Hindu melakukan sembahyang untuk mensucikan diri dari segala perbuatan buruk di masa lalu (Kotawisata.net).


Upacara dimulai pagi hari dengan mengarak benda-benda yang disakralkan. Benda-benda yang disakralkan dari dalam pura diarak ke tepi pantai untuk dikumpulkan dengan sesajen yang berisi bunga, daun, buah, air dan dupa. Sesajen akan di larung ke laut dengan tujuan sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi.


Dalam prosesi acara Jalani Dhipuja tersebut, dilangsungkan doa bersama di tepi pantai yang diberi tempat khusus dengan batas-batas yang tidak boleh dilewati oleh wisatawan.Diriingi oleh suara gamelan Bali, upacara dipimpin oleh Pendeta Agung. Seluruh sesajen yang akan dilarung ditaruh diatas panggung untuk dibacakan doa-doa.





Setelah dipanjatkan doa-doa, benda-benda yang disakralkan disucikan di laut beserta sesajen yang akan dilarung ke laut. Selesainya pensucian diri, umat Hindu secara perseorangan melakukan ibadah di dalam Pura Luhur Amerta Jati hingga tengah hari.






Rabu, 16 Januari 2013

KAWASAN KONSERVASI PULAU SEMPU

eksotisme pulau sempu sangat begitu mengundang decak kagum bagi para traveller. Pulau 877 hektar ini merupakan kawasan konservasi dibawah departemen kehutanan yang menyimpan banyak ragam flora dan fauna yang dilindungi.  terletak di antara 112° 40′ 45″ - 112° 42′ 45″ bujur timur dan 8° 27′ 24″ - 8° 24′ 54″ lintang selatan, pulau sempu berada di tengah-tengah samudra hindia dan masih masuk dalam kawasan Kabupaten Malang.


Pulau Sempu memiliki empat ekosistem yakni ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem danau dan hutan tropis dataran rendah. Sesuai penelitian beberapa ahli, iklim kawasan pulau Sempu termasuk tipe C dengan curah hujan rata-rata 2.132 mm per tahun. Musim hujan umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai April, sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan Juli sampai September.
Di pulau Sempu terdapat lebih dari 223 jenis tumbuhan, dan 144 lebih jenis burung spesies baru dan mamalia dan hewan langka lainnya. Malah, di pulau itu masih ada macan Tutul serta 20 spesies Macan Kumbang. Penjaga pulau dari BKSDA menyebut, binatang buas itu sering tampak di sekitar Telaga Lele dan Teluk Semut.

Untuk menuju ke Pulau Sempu, akses yang dilakukan adalah menuju pantai Sendang Biru terlebih dahulu. Pantai Sendang Biru berjarak sekitar 69 km dari kota Malang dan 150 km dari ibu kota Provinsi Jawa Timur yaitu Surabaya. Pantai Sendang Biru dapat di tempuh dengan perjalanan darat dari Kota Malang. Terdapat dua jalur untuk menuju wilayah Pantai Sendang Biru yaitu,
- Malang-Gadang-Bululawang-Turen-Sumbermanjing Wetan-Sendang Biru
- Malang-Kepanjen-Gondang Legi-Turen-Sumbermanjing Wetan-Sendang Biru

setelah sampai di pantai Sendang Biru, pengunjung akan dikenakan biaya masuk kawasan pantai Sendang biru sebesar Rp. 6.000. Kemudian pengunjung harus mengurus perizinan masuk kawasan konservasi terlebih dahulu yang berada di dalam kawasan pantai Sendang Biru. Untuk pembayaran masuk kawasan konservasi pulau Sempu tidak ada patokan harga pasti, kisaran harga antara Rp. 20.000-Rp. 50.000. Setelah izin didapat, kemudian pengunjung mencari perahu yang akan mengantarkan menyebrang ke Pulau Sempu. Perahu sudah berada di dalam kawasan pantai Sendang Biru. Biaya perahu dikenakan sebesar Rp. 100.000 untuk pulang-pergi.

track Lumpur ketik musim hujan

Ada beberapa tempat yang dapat menjadi tujuan traveller di kawasan Pulau Sempu, yaitu: pantai pasir panjang, segoro lele, segoro anakan. Segoro anakan merupakan maskot kawasan konservasi Pulau Sempu. segoro anakan menjadi kawasan yang paling banyak dikunjungi orang. Perahu akan turun di Teluk Semut, kemudian dilanjutkan perjalanan dengan jalan setapak menuju segoro anakan. Perjalanan dari teluk semut menuju segoro anakan jika musim kemarau memakan waktu sekitar 1-2 jam perjalanan. jika musim penghujan perjalanan dapat dilakakukan sekitar 3-4 jam perjalanan. hal tersebut terjadi dikarenakan kondisi jalan ketika musim penghujan akan menjadi becek dan berlumpur.


Segoro anakan
Disebelah Segoro anakan, terdapat pantai kecil cukup panjang yang berada menghadap langsung ke Samudra Hindia. patai tersebut adalah pantai kembar dan pantai pasir panjang. jalur menuju kedua pantai tersebut terdapat di pertigaan sebelum pengunjung sampai di Segoro anakan. untuk letak segoro lele agak lumayan jauh. namun ketika musim kemarau air danau segoro lele akan mengering.

jika pengunjung melakukan perjalanan di musim penghujan disarankan untuk memakai sepatu bot atau sepatu futsal dengan gerigi di bawahnya karena medan licin dan berlumpur. selamat mencoba dan menikmati kunjungan anda.

Rabu, 28 November 2012

CANDI SINGOSARI: SEBUAH PENINGGALAN PENAKLUK JAWA DAN SUMATERA

Candi Singosari terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. untuk menuju candi ini tidaklah sulit. berada tidak jauh dari pasar Singosari tepatnya sebelah utara pasar. banyak kendaraan umum yang melintas karena candi ini tidak jauh dari jalan raya Surabaya-Malang. masuk gang setelah pasar Singosari kalau dari Kota Malang Menuju Surabaya.

Ditemukan sekitar abad 19, seorang Belanda nicolas engelhard tahun 1803 membuat laporan kepubarkalaan mengenai candi Singosari. candi ini memiliki banyak sebutan mulai candi menara, candi cella (karena banyak terdapat sela pada dindingnya) dan candi cungkup (nama itu menurut W Van. schmid yang berkunjung ke candi tahun 1856, masyarakat menyebutnya). Namun pada akhirnya nama Candi Singosari yang dipakai sesuai dengan tempat dimana candi tersebut berada.

Candi Singosari merupakan peninggalan kerajaan Singhasari. Bukti yang menyatakan candi ini terdapat dalam kitab Negarakertagama pupuh 45:4-5 yang berbunyi :
cri ciwabudha dhinarma ring Tumapel, bhisekaning dharma ring purwapatapan (Kertanegara).
serta pada prasasti gajahmada (1351 M) yang ditemukan di halaman candi.

Di Negarakertagama, candi Singosari yang bernama Purwapatapan disambungkan dengan nama Kertanegara. Kertanegara merupakan raja Singosari terakhir putra dari Raja Wisnuwardana. Dimasa pemerintahan Kertanegara inilah candi Singosari dibangun. Pengangkatan Kertanegara menjadi raja terdapat pada prasasti pakis yang berangka tahun 1254 M. berikut merupakan silsilah raja Singosari:

silsilah raja Singosari
Raja Kertanegara merupakan raja Singosari yang memberikan pengaruh besar bagi kerajaan Singhasari di bidang politik, geografis dan agama. Raja Kertanegara merupakan raja Singhasari yang menganut paham Buddha tantrisme. Buddha Tantrisme merupakan perkembangan ajaran Buddha yang mendapat pengaruh ajaran Hindu. Dalam pararton disebutkan Kertanegara sebagai Civa-Buddha. Pada masa Raja Kertanegara, kerajaan Singhasari memperluas wilayahnya hingga Melayu dan Bali. Perluasan wilayah tersebut merupakan realisasi dari kebijakan politik Kertanegara yaitu cakrawala mandala keluar Pulau Jawa tahun 1275 M. menanggapi kebijakan tersebut kemudian di deklarasi kebijakan Pamalayu untuk menaklukan kerajaan-kerajaan yang ada di Melayu tahun 1284 M.

Disaat pasukan Singhasari melakukan ekspedisi Pamalayu inilah kerajaan di serang oleh Jayakatwang yang ingin membalaskan kematian leluhurnya yaitu raja Kertajaya yang merupakan raja Daha oleh leluhur Kertanegara yaitu Ken arok. Jayakatwang merupakan raja kerajaan Gelang-gelang pewaris tahta kerajaan Daha. Penyerangan Jayakatwang disaat kerajaan Singhasari kosong akibat ekspedisi Pamalayu ini atas saran dari Aryawiraraja yang merupakan bupati Sungenep. Aryawiraraja rupanya kecewa dengan kebijakan Kertanegara yang menempatkan Aryawiraraja di Madura.

Kertajaya membagi serangannya dalam dua arah yaitu selatan dan utara. pada saat penyerangan raja Kertanegara sedang berpesta dan minum-minum tuak. Kertanegara tidak percaya bahwa Kertajaya menyerang Singhasari, hal tersebut disebabkan putri Kertajaya telah dijadikan menantu serta Kertanegara sering mengirim surat kepada Kertajaya. namun setelah prajurit yang terluka menghadap kertanegara barulah percaya. tetapi pasukan Kertajaya terlanjur masuk menyerang kerajaan dan kondisi kerajaan kosong akibat ekspedisi Pamalayu. dalam penyerangan Kertajaya tersebut raja kertanegara terbunuh dan kemudian didharmakan di candi Singosari.

bagian candi Singosari

Sesuai bentuk Candi Singosari masuk dalam kategori candi Jawa Timur yang berbadan langsing. candi Songosari terbuat dari batu andesit dengan menghadap barat ke gunung Arjuno. denahnya berbentuk 14x14 meter dengan tinggi 15 meter. bangunan candi terdiri dari empat bagian yaitu batur, kaki candi, tubuh candi dan atap candi. batur menjadi landasan candi dengan tinggi 2 meter, tidak terdapat relief hanya ukiran tahun restorasi candi yang pertama di sisi kiri candi yang berangka tahun 1934. pada kaki candi terdapat pintu masuk rung utama candi serta relung atau bilik di setiap sisinya yang berisi arca. pada bagian atas bilik terdapat ukiran berbentuk kepala kala yang belum selesai bentuknya. belum sempurnanya ukiran yang dikaki ini disinyalir bahwa pembangunan candi pada masa Kertanegara belum selesai karena terjadi serangan dari Kerajaya. pada bagian tubuh lebih langsing terdapat lesung-lesung kecil yang diatas lesung juga terdapat kepala kala dengan ukiran yang telah sempurna. bagian atap candi tidak bisa direstorasi karena beberapa bagian hilang. namun pada bagian atap dapat disamakan dengan candi Jawi di Pandaan-Pasuruan yang juga merupakan pendharmaan raja Kertanegara dan kemiripan struktur candi. pada candi Jawi bentuk atap mengerucut ke atas dan dipuncaknya terdapat semacam setupa. hal ini menandakan bahwa raja Kertanegara menganut agama buddha tantrayana.
kepala kala yang belum sempurna 

pada undak-undak sisi barat candi menuju ruang utama candi. ruang utama candi terdapat lingga dan yoni melambangkan kesuburan. dalam pararton disebutkan bahwa raja Kertanegara dengan nama Civa-Buddha yaitu pengikut Siwa-buddha. candi Singosari juga merupakan candi yang menggambarkan agama hindu Siwa. salah satu cirinya candi Siwa adalah terdapat lingga dan yoni didalamnya. di kanan dan kiri candi terdapat 2 bilik yang arcanya telah di bawa ke Belanda, pada bilik kecil tersebut sebenarnya terdapat arca Mahakal dan Nandiswara. ciri lain candi Siwa adalah terdapat empat Bilik ruangan dengan berisi arca. keempat bilik dapat dilihat dengan mengelilingi kaki candi searah jarum jam. keempat bilik terdapat arca Dewi Durgamahisasuramardini (merupakan istri Siwa di utara), Ganesa (putra Siwa di timur), Siwa Guru (perwujudan siwa di selatan). dari keempat acra tersebut kini yang masih terdapat di bilik candi hanya tinggal Siwa mahaguru.
Siwa Mahaguru

arca-arca di sekitar candi. tampak arca buddha

dihlaman acndi sekarang juga terdapatbeberapa arca yaitu Dewi Parwati, pelandasan tempat arca, wahana Dewa Surya, arca dua dewi yang telah hancur sebagian, Nandiswara yang merupakan wahana dewa Siwa, Patung Buddha, lingga, yoni, kepala kala yang belum jadi, Lotus dan beberapa arca yang tidak dapat didentifikasi. arca dewi Parwati  arca paling besar lurus dengan pintu ruang utama candi. ciri arca Dewi parwati atau yang biasa disebut Siwa family adalah terdapat empat relief arca kecil di bagian atas arca besar sebagai Dewi Parwati. Keempat arca tersebut adalah Dewa Siwa, Siwa Bhairawa, Ganesa dan Kartikea, kemudian sikap berdiri yang dikanan dan kiri bawah terdapat dewi pengawal.
arca dewei parwati


semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan ketika pembaca berkunjung ke candi Singosari.

Sumber:
1. soekmono. Candi fungsi dan pengertiannya.
2. Soejono, R.P. dan Leirissa, R.Z. 2010. Sejarah nasional Indonesia jilid II. jakarta: Balai pustaka.
3. wardojo, pitonohardjo. 1965. pararaton. jakarta: bhatara.
4. Hardjowardojo, R. Ditoro. Warna sari sejarah Indonesia lama.
5. www.navigasi.net
6. www.budpar.go.id
7.candisingosari.com

Sabtu, 27 Oktober 2012

ALUN-ALUN TUGU MALANG: RIWAYATMU


Siapa tak tahu alun-alun Tugu atau alun-alun bunder ketika mengunjungi Kota Malang yang letaknya tak jauh dari stasiun kota baru Malang. Alun-alun dengan sebuah tugu ditengahnya sebagai simbol kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan pusat pemerintahan Kota Malang, dimana di sisi selatan terdapat kantor Balaikota. Keberadaan alun-alun bunder membuat Kota Malang memiliki dua alun-alun disamping alun-alun lama yang berada dikawasan pendopo Kabupaten Malang.
Malang merupakan satu-satunya kota di Jawa yang memiliki dua alun-alun sebagai tempat berkumpul masyarakat. Setiap kota di Pulau Jawa memiliki alun-alun sebagai pusat beraktifitas masyarakat, termasuk kantor pemerintahan. Hal tersebut merupakan ciri dari kota tradisional di Jawa. Begitu juga dengan Malang sebelum menjadi kotapraja, Malang memiliki satu alun-alun yang sekarang berada di depan kantor Bupati Malang.
Pada abad 18, Malang masih merupakan kawasan pedalaman Jawa. Seiring berjalan waktu dan semakin padatnya daerah pesisir, kemudian banyak Bangsa Belanda yang berdatangan menuju Malang dan mendirikan pemukiman. Kondisi geografis Malang yang dikelilingi pegunungan dan memiliki udara sejuk menjadikan kawasan yang enak untuk ditempati. Banyaknya Bangsa Belanda yang berdatangan, sehingga kemudian menuntut kepada pemerintah Hindia Belanda untuk meningkatkan status Malang menjadi kotapraja. Sehingga pada 1 April 1914, surat ketetapan Gubernur Hindia Belanda keluar yang mengubah status Malang menjadi Gemeente (kotapraja) (Handinoto & Soehargo, 1996:1).
Status kotapraja yang disandang Malang, tidak membuat Malang langsung memiliki walikota. Namun untuk sementara, walikota dijabat oleh residen Malang. Tahun 1919 Kota Malang baru memiliki walikota yang dilantik tanggal 1 Juli. Nama walikota pertama Malang adalah H.I. Bussemaker yang menjabat sejak tahun 1919-1929 (Handinoto & Soehargo, 1996:66). Seiring dengan meningkatnya status Malang menjadi kotapraja, maka dibutuhkan kantor pemerintahan baru. Bangsa Belanda yang menduduki kursi pemerintahan menuntut di bangunnya pusat pemerintah Kota Malang yang baru, tidak menjadi satu di kawasan alun-alun yang lama. Bangsa Belanda memandang alun-alun lama merupakan simbol dari Bumiputra. Alun-alun yang lama sebagai pusat aktifitas masyarakat dianggap kumuh dan tak beraturan. Bangsa Belanda menuntut terbentuknya pusat pemerintaha baru sebagai pusat kegiatan orang Eropa, bukan sebagai pusat kegiatan orang Bumiputra (Basundoro, 2009:208).
Pembangunan pusat pemerintahan kota yang baru masuk dalam rencana pembangunan Kota Malang yang dikenal dengan Bouwplan. Bouwplan yang dicanangkan ini terdiri dari delapan tahap. Pembangunan kawasan balaikota sebagai pusat pemerintahan Kota Malang masuk dalam tahapan atau Bouwplan II. Bouwplan atau rencana pembangunan Kota Malang tahap II ini diputuskan tanggal 26 April 1922 yang dikenal dengan Gouvernuer-Generaalbuurt. Namun pembangunan tahap II ini baru terealisasikan pada tahun 1922 (Handinoto & Soehargo, 1996:66).
Nama Thomas Karsten muncul sebagai perancang alun-alun bunder yang ketika zaman penjajahan Belanda bernama Coenplein, diambil dari nama gubernur Hindia Belanda pertama Jan Pieterzoen Coen (Widodo, 2006:258). Thomas Karsten merancang taman yang berada di depan kantor pemerintahan Kota Malang haruslah tetap menganut sistem tata kota di Jawa, namun dengan konsep yang disesuaikan dengan Eropa (Basundoro,2009:216). Maka yang terjadi adalah alun-alun bunder sebagai pusat aktifitas masyarakat Eropa.
Alun-alun bunder di malam hari
Desain coenplein atau yang dikenal dengan alun-alun bunder tetap dipertahankan sebagai pusat pemerintah hingga zaman Jepang. Namun pada masa kemerdekaan, alun-alun bunder mengalami perombakan. Perubahan yang terjadi adalah berdirinya tugu sebagai lambang kemerdekaan bangsa Indonesia. Tugu yang dinamakan sebagai tugu kemerdekaan ini dilakukan peletakan batu pertama pada tanggal 17 Agustus 1946, satu tahun setelah kemerdekaan Indonesia (Basundoro, 2009:216).
Pembangunan tugu kemerdekaan di alun-alun bunder terhenti akibat agresi militer Belanda. Aksi militer Belanda mulai merangsek masuk ke dalam Kota Malang pada tanggal 22 Juli 1947 (Kotapraja Malang 50 Tahun, 1964:18). Pada tanggal 23 Desember 1947, tugu kemerdekaan yang menjadi inspirasi perlawanan rakyat Malang dihancurkan oleh Belanda. Hancurnya tugu kemerdekaan merupakan penyulut kemarahan rakyat (Basundoro, 2009:220). Rakyat Malang tidak tinggal diam setelah tugu kemerdekaan mereka dibakar, para pemuda membalasnya dengan membakar seluruh fasilitas milik Belanda termasuk balaikota. Peristiwa yang dikenal dengan “Malang Bumi Hangus” terjadi pada tahun 1948 (Kotapraja Malang 50 tahun, 1964:19). Akibat peristiwa tersebut, kawasan alun-alun bunder mengalami rusak berat. Hingga tahun 1950, setelah keadaan republik kembali normal, pembangunan tugu kemerdekaan dilanjutkan dan diresmikan oleh presiden pertama Republik Indonesia yaitu Soekarno pada tanggal 30 Agustus 950 (Widodo, 2006:258).
Desain alun-alun bunder yang dirancang oleh Thomas Karsten tetap dipertahankan hingga tahun 1950, hanya air mancur yang ada diganti dengan tugu kemerdekaan. Bangunannya menggambarkan enam buah bambu runcing yang berdiri tegak dan terikat menjadi satu (Basundoro, 2009:224). Di dasar tugu terdapat relief yang menggambarkan perjuangan bangsa ini melawan penjajahan. Di sekitar tugu terdapat kolam yang ditumbuhi oleh bungai teratai. Kolam dan bunga teratai ini melambangkan keskralan tempat ini. Hal tersebut juga terdapat di bangunan suci masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, seperti Candi Singosari, Candi Jawi dan sebagainya.


REFRENSI:
  1. Basundoro. 2009. Dua Kota Tiga Zaman Surabaya Malang Sejak Kolonial Hingga Kemerdekaan. Yogjakarta: Ombak
  2. Handinoto & Soehargo, Paulus H. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial di Malang. Jogja: Andi.
  3. Kota Praja Malang 50 Tahun. 1964. Malang.
  4. Widodo, Dukut I. 2006. Malang Tempo Dulu. Dinas Pariwisata Malang.

Jumat, 28 September 2012

PANTAI BALEKAMBANG BAGAIKAN MENYATUNYA PANTAI NUSA DUA dan TANAH LOT

Bali van east Java

Pantai yang memiliki pesona berupa 3 pulau, seolah membawa pengunjung berada di Pulau Dewata. Adanya Pura Luhur Amertha Jati membuat suasana pantai ini seperti di Bali. Pantai yang tak asing ditelinga masyarakat Jawa Timur terletak di kawasan pesisir selatan Kabupaten Malang. Terletak di Kecamatan Bantur, berjarak sekitar 65 km dari Kota Malang.

Pantai Balekambang memiliki panjang 2 km dan lebar sekitar 200 meter dengan hiasan pasir berwarna putih kecoklatan terang dan karang, membuat pantai ini wajib dikunjungi apabila jalan-jalan ke Malang. Ombak yang tak terlalu deras membuat pantai ini enak untuk dinikmati bersama keluarga. Sunrise menjadi suatu yang perlu ditunggu dapat telihat dari pantai ini. Sunrise dapat dilihat dari pulau Ismoyo. Yang menjadi istimewa pantai ini dari pada pantai lain di Kabupaten Malang adalah tiga pulau kecil yaitu Ismoyo, Anoman, Wisanggeni.

Sunset di Balekambang
Akses menuju pantai Balekambang lebih mudah via Kecamatan Gondang Legi. Jalan yang lebar dan jelas membuat akses melalui kecamatan Gondanglegi lebih mudah. Hingga saat ini akses angkutan umum yang menuju Balekambang tidak tersedia, hanya tersedia hingga di ibu kota kecamatan Bantur yang masih berjarak kurang lebih 16 km. Sehingga hanya dapat menggunakan kendaraan pribadi.

Biaya masuk pantai ini sebesar Rp. 10.000 (sewaktu tulisan ini diakses, tiket segitu) dan parkir sebesar Rp. 2.000. Fasilitas yang ada cukup lengkap, di Pantai Balekambang terdapat Musolla, Kamar Mandi, Pusat informasi, Camping Ground dan parkir yang luas. Pantai ini selalu ramai oleh pengunjung di akhir pekan. baik yang melakukan Camping atau cuman berkunjung.
Pulau Ismoyo

 Mereka yang berkunjung ke Pantai Balekambang, tak pernah melewatkan berphoto di Pura Luhur Amertha Jati yang menjadi andalan pantai ini. Keberadaan pura ini, membuat julukan sebagai replika Tanah Lot-Bali, lekat pada pantai ini. Pura Luhur Amertha Jati diresmikan pada tanggal 1985 yang diresmikan oleh Bupati Malang saat itu yaitu Edi Slamet. Dibangunnya pura ini merupakan fasilitas yang diberikan bagi untuk warga Hindu Jawa Timur. Keberadaan pura ini tak lepas dari peran masyarakat Hindu di Malang.
Pura Luhur Amertha Jati

Pura Luhur Amertha Jati berdiri diatas pulau Ismoyo yang dihubungkan dengan jembatan dari pantai Balekambang. terdapat satu upacara yang cukup menarik dilakukan di pulau ini yaitu upacara Jalanadhipuja.